
Dulu ada yang bilang/Sutardji mata kiri/dan Chairil mata kanan.//Kini aku yang bilang/puisi kalian rata kiri/puisiku rata kanan.
Binhad Nurrohmat adalah seorang pemberontak. Dia dengan sadar memporak-porandakan tatanan baku perpusian Indonesia. Tak hanya Chairil, Soetardji yang dikenal sebagai “pembaharu” puisi Indonesia juga ia lawan. “Bukan Sekadar Kredo” adalah kredo pemberontakan Binhad termuat di buku pertamanya Kuda Ranjang (Melibas, 2004).
Kata-kata dalam sajak-sajak Binhad meledak-ledak, nakal dan garang. Dalam sajak “Berak” dengan ringan penyair menuliskan: Anusmu yang bagus/saban pagi mengangkangi mulut kakus/yang tak bosan menunggu tahimu.//Dan kita tertawa, ingat pengalaman sendiri, ketika ia berkata://Zakarmu sekuyu gelambir jompo/bungkuk dan malu-malu/mengintip puing tahi/terjepit bongkah coklat bokongmu.
Dulu ada yang bilang/Sutardji mata kiri/dan Chairil mata kanan.//Kini aku yang bilang/puisi kalian rata kiri/puisiku rata kanan.
Binhad Nurrohmat adalah seorang pemberontak. Dia dengan sadar memporak-porandakan tatanan baku perpusian Indonesia. Tak hanya Chairil, Soetardji yang dikenal sebagai “pembaharu” puisi Indonesia juga ia lawan. “Bukan Sekadar Kredo” adalah kredo pemberontakan Binhad termuat di buku pertamanya Kuda Ranjang (Melibas, 2004).
Kata-kata dalam sajak-sajak Binhad meledak-ledak, nakal dan garang. Dalam sajak “Berak” dengan ringan penyair menuliskan: Anusmu yang bagus/saban pagi mengangkangi mulut kakus/yang tak bosan menunggu tahimu.//Dan kita tertawa, ingat pengalaman sendiri, ketika ia berkata://Zakarmu sekuyu gelambir jompo/bungkuk dan malu-malu/mengintip puing tahi/terjepit bongkah coklat bokongmu.
Demonstran Sexi kumpulan sajaknya yang paling gres (penerbit Koekoesan, Mei 2008) masih melanjutkan “perlawanan” itu. Kepada mereka yang menjulukinya “seniman perusak moral” dengan santai ia menitipkan pesan dalam puisi “Penyair Pidato Kebudayaan 2006″ (hal. 11). Ia juga menulis puisi “Monkey Literary Award” (hal. 45) yang menyindir sebuah ajang sastra berhadiah besar di sini, yang maunya menjadi proyek prestisius, tapi karena kelemahan dalam sistem penjuriannya, kini sering malah menjadi bahan sinisme di kalangan sastrawan sendiri. Ya, dalam kumpulan puisi terbarunya ini semangat “menyindir” Binhad terasa sekali.
Binhad yang merupakan lulusan sebuah pesantren di Yogyakarta ini menolak penamaan sastra pesantren dan bahkan lebih luas santra islam. Berikut ini hasil wawancara singkat Muhamad Sulhanudin dengan si penyair Kuda Ranjang itu.
Dalam salah satu artikel anda, anda menolak pelabelan sastra pesantren. Tapi saya menangkap, penolakan anda itu karena belum tergarapnya karya sastra yang disebut sastra pesantren itu. Sebenarnya titik tolak penolakan anda terhadap sastra pesantren di mana?
Saya mendukung semua upaya kesusastraan yang sungguh-sungguh melakukan upaya eksplorasi estetik dan tematik, demikian juga terhadap apa yang disebut “sastra pesantren” itu. Upaya-upaya itulah yang akan bisa memperkaya atau memberikan sumbangan berarti bagi khazanah kesusastraan. Bagi saya, istilah sastra pesantren saat ini masih sekadar label, tanpa konsepsi estetika yang jelas.
Sejauh amatan saya, yang disebut sebagai sastra pesantren itu saat ini masih sebatas label sosiologis dan tematik, artinya merujuk asal-usul pengarang yang punya ikatan pengalaman atau kesejarahan dengan kehidupan masyarakat pesantren dan berpokok soal dunia pesantren. Dunia pesantren dalam karya-karya yang disebut sastra pesantren itu masih sekadar menawarkan suatu tema dengan sentuhan yang masih permukaan. Kompleksitas dunia pesantren masih lebih saya temukan dalam kajian akademis, bukan dalam karya-karya yang disebut sastra pesantren itu. Dan secara estetika, karya-karya yang disebut sebagai sastra pesantren itu masih merupakan copypaste dari karya-karya yang dikategorikan bukan sebagai sastra pesantren. Jadi, apa tawaran karya-karya yang disebut sastra pesantren itu? Pendapat saya dalam artikel saya itu merupakan sanggahan dan tantangan saya terhadap “perjuangan” para pengusung sastra pesantren.
Penolakan anda terhadap sastra pesantren ataupun sastra islam, secara langsung maupun tidak berarti telah mengabaikan karya-karya para sastrawan dari kalangan pesantren dan islam yang di dalamnya kental dengan suasana sastrawannya?
Abdul Hadi WM atau siapa pun berhak marah besar terhadap adanya penolakan terhadap sastra Islam di Indonesia saat ini. Tapi marah besar bukan sikap yang tepat menanggapi perkara semacam itu. Sayalah yang pernah melontarkan penolakan pelabelan sastra Islam di Indonesia di hadapan Abdul Hadi WM dalam sebuah forum sastra di Banten sekian tahun lalu. Bagi saya pelabelan sastra Islam itu sulit dipertanggungjawabkan secara estetika dan lebih bermotif dagang, mencari merek, di tengah fenomena gairah orang ber-Islam di tanah air belakangan ini.
Karya-karya pengarang Indonesia saat ini yang disebut sebagai sastra Islam itu sebenarnya secara estetika masih merupakan copypaste dari tradisi sastra Barat, tapi tema yang diusungnya Islami. Menurut saya saat ini tak ada sastrawan Indonesia yang menulis seperti Hamzah Fansuri, Nawawi Al Bantani, Abdurohman As Singkeli dll. Demikian juga Abdul Hadi WM, A Mustofa Bisri, Zawawi Imron, maupun Emha Ainun Nadjib. Sejumlah pengarang Indonesia memang mengusung nilai-nilai Islam dalam karyanya, namun bentuk estetikanya bukanlah bentuk sastra Islam seperti rubayat dan yang lain-lain itu.
Dalam artikel itu, anda juga menyampaikan bahwa anda justru jadi korban “kesucian” pesantren karena dalam puisi-puisi anda mengumbar syahwat. Dan anda juga merujuk pada serat Centhini bahwa dalam karya yang mengeksplorasi seks terkandung makna yang meninggi. Apakah demikian dengan karya anda?
Seandainya saya tak dianggap sebagai orang yang pernah terlibat dalam dunia pesantren, puisi-puisi saya tak akan dicaci-maki atau dinista orang seperti saat ini. Bagi orang kebanyakan, puisi yang saya tulis tak patut muncul dari imajinasi santri.
Saya kira, nafsu terhadap hal-hal transendensial dalam melihat karya sastra terlalu berlebihan. Juga dalam urusan seks. Apakah karya sastra harus transenden, harus memasuki lapisan kenyataan yang “tinggi” atau “dalam”? Bagi saya, sebuah teks bernilai transenden atau bukan transenden bisa juga tergantung kepada politik pembacaan. Menurut saya, kenyataan memiliki banyak lapisan dan masing-masing lapisan memiliki mutunya masing-masing. Saya merasa sebagai seorang penyair banal dan bergulat menemukan mutu banalitas. Dan saya sering membaca karya sastra yang ingin transenden tapi jeleknya bukan main.
Saya menggarap urusan tubuh dalam karya-karya saya. Tubuh fisikal-biologis, tubuh sosiologis, dan tubuh spiritual-teologis. Trilogi tubuh inilah yang mendasari kelahiran puisi-puisi saya. Tubuh dalam kenyataannya menjalani peran biologis (bekerja atau bercinta), peran sosiologis (tubuh boleh telanjang di kamar mandi, tapi mesti berbaju saat berada di pasar), dan peran spiritual-teologis (tanpa tubuh manusia tak bisa menjalankan naluri spiritual atau teologisnya, misalnya sholat atau berderma). Begitulah puisi-puisi saya. Banyak yang menyebut puisi saya banal. Tapi bagi saya banalitas bukan cela dan ketransendenan tak jarang sekadar kepalsuan yang berbunga-bunga.
Sejauh mana pesantren memengaruhi proses kreatif penciptaan puisi-puisi anda?
Saya sudah menulis beberapa buku dan silakan saja menilai apakah latar belakang pesantren saya memberi kontribusi atau tidak terhadap karya-karya saya itu. Saya sudah menulis, dan menulis itu pekerjaan melelahkan, apalagi kalau saya diminta menjelaskan karya-karya saya itu. Saya pernah di pesantren dan saya bergulat dalam dunia kesusastraan. Sebenarnya saya merasa sebagai manusia yang menulis dan pesantren hanya sebagian dari kenyataan hidup saya sebagai manusia. Saya tak ingin terpenjara oleh apapun, juga oleh pesantren. Banyak kenyataan di luar pesantren yang tak kalah nilainya ketimbang kehidupan pesantren.
———————
Tulisan ini diterbitkan di Majalah Hayamwuruk edisi No.1/Th. XVIII/2008, Fenomena Sastra Islami: Antara Pro dan Kontra.








0 komentar:
Poskan Komentar
Hai Sahabat, telanjangilah Postinganku dengan kata-kata kalian di sini