
Gus Jakfar dibuat terbengong-bengong mendapati Kiai Tawakkal suatu malam bercengkerama di warung. Si Gus kita ini seperti kehabisan akal untuk memahami manusia setingkat waliyulloh malam-malam bukannya digunakan untuk beribadah di masjid tapi malah mendatangi tempat maksiat. “…apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung tadi yang kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka?”
Di antara kita barangkali kerap memandang orang lain dari luarnya saja. Kita berbuat baik karena ingin dapat pahala. Seperti kata Kyai Tawakkal, kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita.
“Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi; kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur; ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan: godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak’” Kyai Tawakkal mengingatkan Gus Jakfar.
Gus Jakfar dan Kyai Tawakkal adalah tokoh rekaan KH Ahmad Mustofa Bisri. Ya, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang, Jawa Tengah yang akrab dipanggil Gus Mus itu selain menjadi kyai, pengasuh pondok, juga menulis cerpen, puisi juga melukis. Gus Jakfar adalah salah satu judul cerpen dalam buku kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi (Penerbit Buku Kompas, 2003). Lukisan Kaligrafi ditetapkan sebagai penerima Hadiah Sastera Mastera 2005 oleh Pemerintah Malaysia.
Kyai menulis cerpen tentu bukan hal yang lazim. Barangkali sama ganjilnya dengan tokoh Kyai Tawakkal. Bisa jadi Kyai Tawakkal itu Gus Mus sendiri, atau Gus Jakfar itu Gus Mus sebelum menemukan guru “mistik” Kyai Tawakkal itu? Muhamad Sulhanudin mewawancarai kyai “nyeleneh” ini di kediamannya di Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Jalan Mulyo No. 4 Rembang, Jawa Tengah.
Ketika anda menulis cerpen atau puisi, apa tidak ada penolakan dari keluarga atau santri anda?
Itu sebetulnya inheren dengan pesantren. Cuma karena pesantren sekarang berubah, orang mengira itu bukan dari pesantren. Tradisi bersyair itu di pesantren sudah ada sejak zaman nabi. Meski nabi tidak diajarkan bersyair, dia bersyair. Wa ma allamnuhu syi’ro wa ma yambaghilah. Jadi karena beliau nabi, tidak sepantasnya beliau bersyair. Tapi beliau sangat apresiatif terhadap sastra. Beliau bicara bersastra. Lihat saja hadist-hadist-nya, indah sekali. Kemudian beliau mendengarkan dengan sangat antusias ketika ada penyair membaca puisi. Bahkan pernah Ka’ab bin Zuhair itu membaca qosidah panjangnya Banat Su’ad itu beliau sampai mencopot burdahnya, seperti mantelnya dikasihkan ke penyair itu. Dulu penyair itu kelas atas zaman jahiliyah itu. Mereka yang penyair itu paling ditakuti dan paling disegani. Nabi bukan penyair, tapi beliau tahu sastra. Kemudian belakangan sahabat Abu Bakar, sahabat Umar sampai saya itu bersyair. Tentu saja sesuai dengan bahasanya. Seperti ayah saya membikin puisi bahasa Jawa, banyak sekali. Bahkan sampai orang sekarang tidak tahu seperti “Tombo Ati” itu puisi ayah saya. Seperti guru saya Kyai Ali Ma’sum, dia menulis syair-syair bagus sekali dalam bahasa Jawa. Yang lain-lain yang saya tahu, mereka menggunakan bahasa Arab. Kyai Hamid Pasuruan yang terkenal sebagai wali, sebetulnya dia sastrawan, mempunyai diwan, kumpulan puisi bahasa Arab. Kyai Hasyim Asy’ari, dia juga mempunyai kumpulan syair. Jadi itu wajar. Kalau saya menulis syair, orang tua saya malah seneng. Karena saya mengikuti tradisi pesantren.
Seni lukis di kalangan santri tradisional masih dipersoalkan, misalnya,i apakah boleh menggambar benda-benda hidup?
Saya katakan tadi, itu tergantung orangnya. Sejauh mana dia memahami dan menghayati islam itu. Dan kita tidak memaksakan orang. Kalau masih tingkat SD, ya jangan dipaksakan untuk masuk SMP, kalau masih tingkat SMP jangan dipaksakan masuk SMU atau perguruan tinggi. Kita kan kadang-kadang begitu, begitu kita di perguruan tinggi, anak SD itu kita marahi karena nggak bisa seperti kita. Tapi kalau dia terus belajar, Insya Alloh dia akan sampai ke perguruan tinggi. Biarkan saja. Bahwa di dalam islam itu sangat luas, tentang lukis saja. Ada lima atau entah berapa tentang pendapat ulama tentang seni lukis. Kalau kita mengetahui lebih banyak, kita menjadi lebih leluasa. Kalau kita hanya melihat sedikit, kita menjadi rupek.
Bagaimana perkembangan sastra atau seni di lingkungan pesantren sekarang ini?
Saya melihat sekarang dari kalangan pesantren itu banyak bermunculan sastrawan. Seperti D Zawawi Imron, Jamal D Rahman, ada Matori Elwa, banyak sekali. Kalau kita bisa sebut juga Abidah Khalieqi, Ahmadun (Yosi Herfanda) mereka penyair-penyair atau sastrawan yang diakui oleh kritikus-kritikus sastra karena mereka sastrawan yang bagus. Tapi ada juga yang dari pesantren itu yang nafsu berdakwahnya lebih besar. Itu yang kadang-kadang yang menghambat dia. Biarkan saja penghayatan dia, keislaman dia itu yang muncul. Seperti dulu penyairnya Rosulullah, Husan bin Sabit, karena dia orang islam, puisinya tentu akan berbeda dengan puisi-puisi orang jahiliyah. Kita bisa membaca ini orang islam, jadi bukan sebaliknya. Kita lalu belajar islam untuk membikin puisi islami. Hahaha, jangan gitu.
Akhir-akhir ini marak bermunculan karya-karya sastra yang berlabel islami, seperti yang diusung oleh komunitas Forum Lingkar Pena, bagaimana anda melihat fenomena tersebut?
Ya, biarkan saja. Seperti yang saya katakan tadi, ada orang yang suka tampil dengan cat, biar saja. Karena memang masih suka begitu. Tapi itu kan berproses lama-lama kan nggak juga. Kita yang suka label-label itu kan ada. MUI saja suka label. Label halal segala macam, hahaha. Ya biar saja, la wong isane lagek ngono, kon piye maneh, yo wis ben. Saya katakan tadi kan ada kelas-kelas. Saya analogikan dengan anak sekolah itu. Jadi kalau anak SD sampai SMU itu dari bajunya sampai harus ditonjolkan. Kalau mahasiswa ndak pake lagi. Jadi itu ndak papa, biar saja. Nanti kan ada orang yang tukang menilai, kritikus. Sayangnya sekarang sangat sedikit. Nanti dia yang akan ngeritik dari segi sastra. Dari segi islami ada orang yang awam, ada yang elit, ada yang ngerti, ada yang tidak mengerti, orang awam ada yang khos atau yang akhos, itu berbeda-beda. Akhir-akhir kita lihat semangat keberagamaan sangat marak. Itu tentu global, bukan hanya di sini. Biasanya Indoensia hanya melok-melokan tok. Di dunia ada orang modern, kita ikut modern-modern-modern. Sufi-sufi-sufi, islami-islami-islami.
Jadi apakah anda melihat fenomena itu sebagai sebuah tren?
Ya, semangat keberagamaan lagi sangat marak. Asal semangat itu dibarenagi dengan semangat belajar terus, ya ndak apa-apa. Baru kita resah, kalau mereka berhenti. Orang itu kalau berhenti belajar, mulai dia bodoh. Itu kata nabi. Orang itu selama masih terus belajar, orang itu akan tetap pandai. Kalau sudah merasa pandai dan kemudian berhenti belajar, mulailah dia bodoh. Jadi saya tidak kuatir semangat keberagaaman yang kenthel-kenthel itu asalkan disertai dengan semanagt belajar. Artinya kalau semangatnya keislaman ya disertai dengan belajar tentang islam. Jangan hanya gembar-gembor “Allohu Akbar” tok. Hahaha.
Menurut anda yang membedakan karya sastrawan pesantren dengan luar pesantren itu apa?
Mereka disebut sastrawan pesantren karena mereka dari latar belakang pesantren, itu saja. Kalau puisinya sama saja. Kalau kita lihat dari karya sastra, misalnya puisi. Kita melihat perbedaan puisinya Umar Khayam, Attar, Rumi, Rubiah Adawiyah, dengan Taufik Ismail, Abdul Hadi WM. Saya katakan seorang muslim dia jadi apa saja dia akan mengekspresikan dirinya. Kalau seorang itu manusianya utuh maka menurut saya islamnya bagus. Karena islam itu agama fitroh. Kalau orang itu agak bau kete’ sedikit, hahaha, islamnya agak berkurang, ada ular, ada buaya. Karena islam itu masih manusia utuh. Meskipun dia tidak syahadat, tapi dirinya masih utuh, ketika dia mengkspresikan dirinya kelihatannya seperti islami.
Manusia yang utuh dan yang tidak utuh itu seperti apa?
Yang tidak utuh itu yang tidak berlaku seperti manusia. Patokannya ya seperti manusia umum sajalah. Manusia bisa menilai itu baik atau buruk. Seorang manusia kalau tunduk pada tuhannya itu wajar. Itu manusia utuh. Manusia yang utuh itu kalau melamar seorang perempuan kalau dijadikan isteri di memulyakan, itu manusia utuh. Kalau dia ngelamar-ngelamar sendiri lalu ditabo’i, itu bukan manusia utuh. Sudah campur macan.
Bagaimana kalau manusia masih melakukan maksiat-maksiat kecil?
Nah itu kan masih dalam proses untuk menjadi manusia yang utuh, “insan kamil” istilahnya. Manusia yang kamil itu Kanjeng Nabi. Dia persis seperti adanya manusia. Dengan tuhannya ia menyembah. Dengan selain tuhanya dia menguasai, karena dia kholifah. Dengan saudaranya baik, dengan istrinya baik, dengan yang tua memulyakan, dengan yang muda menyayangi. Ada anak kok misohi bapa’e, wis rak usah agama islam, mesti nyeneni kabeh. Dan itu kalau dia berkarya, itu akan muncul dengan sendirinya, nggak usah diniati. Kecuali kalau mau cari ganjaran. Kayak Taufik itu mau cari pahala. Hahaha. Disamping dapat honor juga dapat pahala.
Dalam sastra atau kesenian menuntut kebebasan berekspresi. Ketika kita masuk pada seni atau sastra religius, seperti apa batasan yang diberikan oleh islam dalam sastra atau kesenian?
Itu kan istilah bikinan orang saja. Ada sastra pesantren, ada sastra islami, sastra religius. Itu untuk ngomong-ngomong saja lah, supaya ben pantes. Sebetulnya kan nggak ada. Itu kalau dibilang sastra islami, kan harus diberitahukan dulu, yang islami itu yang kayak apa. Kalau menurut saya, kalau sastrawan itu muslim, mesti islami. Bahkan kadang-kadang yang tidak islam, ya bisa islami. Tergantung kita melihatnya, pendekatan kita kepada penyairnya, pekerja sastranya, atau karyanya. Kalau saya melihat dari karyanya, semua karya sastra yang baik itu islami. Kalau melihat dari sastrawannya, asal dia muslim, mesti islami. Kenapa demikian, karena seorang islam itu didorong dari dalam. Seperti saya menulis saya tidak ada pretensi untuk berdakwah, atau segala macam. Tapi ada skripsi yang mengatakan bahwa sastra saya itu sastra yang berdakwah. Saya tidak ada batasan. Mungkin malah Taufik Ismail yang ada pretensi dakwah. Saya nulis saja. Saya mempunyai prinsip dalam bersastra, prinsip saya “La ilaha illa Allah”. Menurut saya hanya orang yang berlailahaillallah yang merdeka. Yang merdeka yang bisa kreatif, bebas. Kalau orang masih tuhannya banyak, ya nggak bisa kreatif. Hahaha. Kalau ada sastra sufistik, sastra profetik, itu hanya omong-omongan sastrawan-sastrawan kurang kerjaan saja, hahaha.
Anda mengatakan karya yang baik itu islami, karya yang baik menurut anda seperti apa?
Sastra merupakan kata-kata yang indah, itu saja, sederhana. Kesenian yang lain tonjolannya keindahan. Seni lukis, ya gambar yang indah. Kalau orang mengekspresikan lukisan, ya lukisannya indah. Kalau mengekspresikan dengan kata-kata, ya kata-katanya indah, itu sastra. Tentu saja keindahan sesuai dengan yang menjadi orang-orang yang punya selera. Masak kita berbicara tentang sastra dengan orang yang tidak pernah bergelimang dengan soal sastra, kan ya tidak. Ada orang yang mengerti soal sastra, yang bergelut dengan sastra. Itu yang saya kira mempunyai katakanlah penilaian yang bisa kita dengarkan. Kalau setiap orang kan ndak bisa. Tentu semua orang tidak menganggap itu indah. Seperti ada kritikus sastra yang ada ngelmunya, yang saya nggak tahu, saya ndak belajar. Tetapi kritikus sastra itu yang nanti bisa menunjukkan apakah kata-kata ini indah atau tidak.
Kembali ke konsep lailahaillah tadi, berarti anda tidak peduli dengan kritikan orang lain?
Kritiknya sesuai nggak dengan Alloh saya, dengan Tuhan saya? Kalau nggak sesuai ya saya abaikan. Kalau sesuai saya dengarkan. Dikatakan sesuai karena ada kekeliriuan. Saya pernah dikritik ketika saya membuat puisi jududulnya “Aku Merindukanmu o Muhammadku”. Itu saya dengarkan kritiknya. Dia mengatakan kok kamu njangkar saja, hahaha. Karena mungkin dia orang Jawa. Mungkin dia agak risih mendengar saya memangil “o Muhammadku”, karena kayak kawan saja. Kalau kapan-kapan bikin, saya tidak akan njangkar lagi. Kanjeng Nabiku, hahaha. Jadi saya kita buat karya itu, sama sekali tidak teringat kecuali alloh.
Jadi anda mengatakan sebuah karya sastra itu merupakan manifestasi dari keislaman penciptanya?
Jadi tergantung orangnya itu ah. Anda lihat sendiri sajalah, seperti orang-orang yang dicap-cap ini, seperti sastrawan sufistik, sastrawan islami ini. Orangnya seperti itu. Orangnya bukan karyanya.
Kalau seorang penyair atau sastrawan itu hanya omong saja sementara dia sendiri melakukannya, apakah itu salah?
Itu dikecam oleh Qur’an. Seperti penyair-penyair jaman jahiliyah. Mereka ngomong tentang apa saja. Apa saja mereka bicarakan. Tapi tidak mereka lakukan. Kalau orang itu beriman, dia akan terikat. Dia ngomong itu harus melakukan. Yang dibicarakan Qur’an itu penyairnya, atau sastrawannya. Seperti yang saya katakan tadi, kita bisa mendekati dari sastrawannya taua karyanya. Kalau karyanya saya cenderung untuk mengatakan semua karya sastra yang baik itu religius.
Bagaimana pandangan anda terhadap fenomena munculnya sastrawan-sastrawan perempuan terakhir ini yang diantaranya banyak dikrtik karena mengangkat isu-isu seputar seksualitas, apakah anda juga merasa risih dengan hal tersebut?
Saya nggak risih. Karena saya melihat orang-orang itu berkelas-kelas tadi. Orang dia baru dalam taraf itu, suruh diminta bagaimana. Suruh bersopan-sopan seperti Taufik Ismail, dia ngaji terus, belajar agama terus. Asal sudah malalui jalurnya nggak masalah. Nanti akan berubah sendiri kalau orang itu berproses. Kecuali kalau dia berhenti karena merasa sudah hebat, sudah pinter, akan gitu-gitu saja. Itu akan menyenangkan anak-anak muda zaman sekarang, tapi zaman yang akan datang sudah tidak lagi.
Ada yang mengatakan bahwa karya-karya tadi akan merusak masyarakat?
Itu kan kalau ada yang baca, hahaha. Jadi, saya tidak khawatir, asal orang masih terus belajar. Saya nulis puisi awalnya niru-niru, semua saya tiru. Ada puisi saya yang niru tardji, ada puisi saya yang niru gunawan, niru sapardi, ya sudah, nggak papa, belajar terus, lama-lama kan menjadi baik. Jadi kita tidak bisa memaksakan kepada orang, kalau mau mengkritik silakan. Karena mereka menjadi seperti itu, karena disamping ada yang mengkritik ada juga yang mengeluk-elukan. Wuah itu satra yang hebar, sastra yang transpaean. Tapi sebetulnya ada persoalan yang belum orang pikirkan. Masyarakat kita ini sudah sastra minded atau belum? Jangan-jangan belum. Saya pernah ada kawan dari belanda, dia mengatakan orang-orang pesantren itu kok nggak ada orang yang bicara. Martin kebetulan punya puisi saya yang “Ohoi” itu, “Puisi Balsem”. Ini orang pesantren. Nanti kalau ketemu tolong ditanyakan. Apakah dia tidak pernah berurusan dengan yang berwenang dengan berbicara seperti ini. Dia kesini untuk tanya hal itu. Saya jawab, yang berwenang nggak pernah baca puisi, mereka tertawa, hahaha. Kalau dibaca dumuka umum kayak rendra, ya ditangkap saya. Itu ilustrasi. Kadang-kadang kita kepikiran sendiri kalau karya-karya kita tidak ada yang baca.
Anda sendiri setuju atau tidak dengan karya-karya yang mengeksplorasi masalah seksualitas?
Itu kan itu tidak untuk disetujui atau tidak. Kalau anda tidak setuju anda tidak usah membacanya, hahaha. Seperi anda di hotel, kopi sekian itu kok lima belas ribu. Itu bukan hotelnya yang salah, sampeyan yang salah kok mau beli. Jadi tergantung orangnya. Orang punya beragam pandangan. Kita tidak bisa menggenaralisir. Menurut dia sah, menurut kita beda lagi. Kita mempunyai prinsip sendiri, orang lain juga punya prinsip sednrii. Kalau bisa kita dialogkan. Menurut saya yang tidak setuju bikin karya. Krikus silakan kritikus, karena itu kerjaannya. Kalau dia sastrawan bikin aja tandingannya. Seperti orang yang tidak senang dengan pram, tapi dia nggak bisa bikin seperti Pram (Pramoedya Ananta Toer).
Berarti anda melihat minat baca masyarakat kita terhadap sastra masih sangat kurang?
Ya, masih sangat kurang. Itu mulai ada maraknya ada kegiatan baca puisi, mulai paling ada pejabat ada yang baca puisi. Lama-lama karena pengen buat puisi dia beli buku puisi. Ada seoarang lagi datang ke sini tanya, santri sampeyan itu kira-kira bagaimana baca puisi sampeyan. Ya nggak tahu, tanya saja itu santri. Dia dipanggil. Dia baca puisi saya yang dunia serba tuhan itu. Tuhan ada di mana-mana. Santri itu ngamuk-ngamuk, ni puisi siapa, hahaha. Tersinggung agamanya. Kawan ini ketawa-ketawa. Saya bilang bahwa ini bukan bacaan dia. Di pondok itu berjenjang. Ada pelajaran nahwu sorof, baru ada balaghoh. Balaghoh itu juga berjenjang. Dari ma’ani sampai ke batin. Itu ilmu sastra. Sehingga kalau belum melewati itu ya nggak bisa.
Mengenai proses kreatif anda, apakah perlu ritual khusus dalam membuat karya?
Nggak, saya enak saja. Saya mau nulis-nulis saja. Karena bebas sekali. Nggak ada yang baca saya baca sendiri. Banyak karya saya yang tidak dipublikasikan. Tak woconi dewe karo bojo lan anakku. Jadi kalau dari keluarga saya bilang ini pantes dipublikasikan ya saya kirim. Saya nulis cerpen pertama kali di koran ya Gus Jakfar itu, di Kompas. Itu saja sama danarto hampir tidak boleh. Orang dia yang bujuki-bujuki saya. Dia tidak tahu kalau saya juga suka nulis cerpen. Dia bilang mbok jangan nulis puisi saja mas. Nulis cerpen. Saya bikin Gus Jakfar saya kasian ke beliau. Saya tanya, ini sudah cerpen atau belum. Dia bilang, ini sudah cerpen tapi kepanjangan. Ndak akan ada koran yang mau muat. Apalagi Kompas, Kompas itu terlalu pelit dengan kolom. Kalau bisa dikurangi mas. Saya coba-coba, kalau saya kurangi kok nggak mungkin. Menang cacak, kalah cacak, saya kirimkan dulu, akhirnya dimuat. Itu hampir satu halaman. Menurut Danarto baru kali itu ada cerpen di koran sampai 23 ribu karakter. Itu pertama kali saya publikasikan cerpen. Sebelumnya saya sering nulis dongeng-dongeng.
Selain tema-tema tentang pesantren, adakah tema lain yang anda garap dalam karya anda?
Hampir sama dengan puisi-puisi saya sebetulnya. Cuma sejak Jamil Suherman cerpen yang berbicara soal pesanten masih jarang. Dan Jamil sendiri ketika berbicara soal pesantren itu hanya untuk latar belakang saja. Seperti Hamka, Di Bawah Lindungn Ka’bah, itu settingnya saja. Persoalannya soal adat bukan pesantren. Ada yang persoalan islam, tapi tidak pesantren. Ada AA Navis, Achdiat, itu membahas persoalan islam. Tapi kebanyak yang dari pesantren itu hanya settingnya saja. Santri lanang pacaran kambek santri wedok. Belum ada yang bicara misalnya sasntri lanang yang bersaing sama kyainya. Saya kalau nulis gitu, jadi saya seperti Gus Jakfar, saya bukan latar belakang. Latar belakang tidak penting, yang dipentingkan adalah nilai-nilainya. Saya ingin mengatakan bahwa orang itu di atas yang baik ada yang lebih baik. Ada yang lebih baik. Diaats orang yang pinter ada yang lebih pinter lagi.
Apa yang anda tawarkan dari tema-tema pesantren itu, adakah hal yang unik?
Nggak. Itu hanya untuk memudahkan saja. Karena saya orang pesantren enak saja kalau cerita soal-soal pesantren. Nggak begitu banyak imajinasi. Tinggal comot sana-copmot sisni dari pengalaman saya. Makanya ada yang tanya kepada saya, apakah ini cerita sungguhan. Saya jadi sedih. Begitu keluar cerita Gus Jakfar di Kompas, banyak yang tanya apakah masih ada Gus Jakfar, Kyai Tawakkal itu apa masih hidup. Wah ciloko, bukan dari segi sastranya yang dikomentari, hahaha. Tapi ada yang membesarkan hati saya, dia bilang itu tandanya sastra yang sukses, cerita diangap tenanan.
Tujuan memunculkan tokoh kyai tawakkal, dalam cerpen Gus Jakfar itu apa?
Banyak. Dia akan melihat rendah pada orang yang tidak mempunyai. Ketika dia punya jabatan, dia tidak akan menganggap rendah pada orang yang rakyat jelata. Kalau dia diberi ilmu dia tidak akan merendahkan pada orang yang bodoh. Ketika dia sangat agamis, kadang-kadang dirinya begitu… Kalau anda lihat Kyai Tawakkal ini memporak-porandakan semuanya itu, baik dan buruknya itu kan tuhan yang menilai, bukan kita. Itu kan seperti Gus Jakfar ketika melihat orang-orang di warung itu, meskipun tidak dikatakan, tetapi ada rasa dia merendahkan orang-orang itu. Itu orang yang sesat, kadang-kadang kita mengasihani orang yang tidak beragama dan seterusnya, padahal tidak begitu.
Anda mengatakan bahwa orang itu masih dalam proses, berarti nantinya akan menjadi lebih baik?
Ya. Seorang mubaligh, bagaimana pun terkenalnya kalau dia tanpa belajar, lama-lama orang akan sebel, lagi-lagi kok itu yang keluar. Dia akan mendeg. Ciptaan itu kan sesuatu yang baru. Kalau kita mengulang-ulang saja orang tidak akan menilai sebagai sebuah ciptaan. Ngapain, mending foto kopi saja. Yang baru-baru itu kan harus belajar lagi.
Kembali ke masalah labelisasi dalam karya sastra tadi, yang menurut anda tidak perlu, apakah kemudian produk-produk islami itu seperti barang dagangan?
Itu kan sama saja seperti Rhoma Irama, menyanyi sambil berdakwah. Kemudian TV kalau Romadhon berdakwah semua, memang bisanya begitu mau apa, hahaha. Sebenarnya yang terjadi karena didorong oleh semangat keberagamaan tadi. Ketika orang terlalu bersemangat berdakwah, lalu dia cari-cari dalam dirinya. Kira-kira apa yang bisa saya gunakan untuk berdakwah ini. Saya bisa nyanyi, nyanyinya dibikin islami. Seperti Hamzah Fansuri dan lain-lain, mereka tidak pernah mengatakan puisinya islami. Orang saja yang menilai belakangan. Kalau saya mau, saya akan mengatakan saya adalah penyair islami. Karena banyak puisi saya yang islami. Dulu pernah ada sayembara menulis puisi islami, saya terus bikin puisi, tapi tidak diikutkan dalam penilaian. Jurinya salah satunya adalah Tardji dia tahu kalau itu tulisanku. Isinya ngeledek. Kaosku islami, sekolahku islami, sajadah saya islami, mobil saya islam, pertanyaan dibelakang saya tulis, islamkah saya. Din Syamsuddin marah-marah. Sampeyan bikin puisi menyulitkan islami. Ustadz kok nggak islami itu bagaimana.
Aktivitas anda selain di dunia seni dan dipesantren?
Saya sekarang punya website, gusmus.net. Segala macam aktivitas saya ada di situ. Ada puisi saya, cerpen saya, lukisan saya, tampang saya. Dan saya keliling di desa-desa. Silaturahmi pada rakyat kecil. Ya menghibur mereka, karena saya tidak bis amembantu mereka. Ngomong yang enak-enak.
Apakah anda juga menganjurkan santri anda untuk melanjutkan kegiatan anda dalam sastra dan kesnian ni?
Di sini menulis memang termasuk sudah jadi kebutuhan. Ada dari mereka yang memilih jadi penerjemahan. Ada yang tulisannya sudah masuk- di mana-mana. Saya pernah mengaji di pondok itu namanya bandungan. Jadi kyainya baca kitab mereka nyatat-nyatat. Saya pernah ngaji itu, bukan kitab kuning, tapi kitab putih, tulisanya Gorys Keraf, judulnya Komposisi, hahaha. Saya baca tiga bulan khatam. Saya sebarkan ke mereka. Agar mereka punya pengetahuan dengan ilmunya yang dimiliki. Sambil mencocokkan ilmu yang dipelajari itu. Misalnya ini kalau dicocokkan dengan ilmu mereka yang dari nahwu sorof itu sebenarnya sama. Nah dari sini kemudian mereka bisa mengamalkan ilmu nahwu sorofnya itu dalam bahasa santri. Selama ini mereka punya ilmu tapi tidak dipake. Di pesantren itu ada ilmu sastra, namnaya balaghoh. Karena aslinya ilmu balaghoh itu diciptakan untuk mengapresuiasi keindahan Al Qur’an. Orang yag tidak belajar sastra tidak mungkin bisa. Itu semuanya dipelajari dalam balaghoh. Seorang santri yang kreatif, dia tidak hanya menggunakan untuk menafsir atau mengapresiai Al Qur’an, tapi untuk diri sendiri juga. Karena ilmu kan seperti alat. Kalau alat itu untuk melihat keindahan, berarti juga bisa untuk membuat keindahan. Saya tekan-tekankan, ilmu ini tidak hanya untuk melihat keindahan, tapi juga untuk karya-karya kita. Maka ketika ada kyai yang bilang saya ini aneh, kyai kok berpusi, saya ngomong di koran, karena wartawan bilang sampeyan dirasani kyai-kyai, saya bilang justru kyai-kyai yang tidak berpuisi itu yang aneh. Karena mulai kanjeng nabi sampai kyai Hasyim As’ari itu puisi semua. Tiap hari Jumat, orang pesantren baca puisi semua, tapi puisinya Jakfar al Barjanji, puisinya Ibnu Syiri, kenapa saya nggak bikin sendiri, hahaha. Dan itu yang diakukan santri-santri pendahulu. Banyak orang yang tidak tahu kalau kyai Hamid pasuruan itu sastrawan karena kalah citranya sebagai wali, padahal ia punya banyak puisi. Cuma nggak dipublikasikan.
Kenapa banyak karya pesantren tidak banyak terekspose seperti di di kalangan penulis FLP, apakah karena kurangnya media penerbitan?
Pesantren itu umumnya di desa, ini hanya pesantren ini saja yang ada di kota, umunya pesantren itu ada di desa-desa. Desa itu jauh dari pusat komunikasi. Tapi sekarang akan lain. Orang akan kaget karean dari pesantren itu mereka sekarang sudah mulai akrab dengan teknologi. Banyak santri yang sudah mempunyai website sendiri. Misalnya santri-santri di Mesir. Cuma mereka tidak akrab karena tempatnya di desa dan kendalanya di daerah Jawa ini adalah bahasa Indonesia, makanya saya membaca komposisi. Karena biasanya orang Indoensia merasa tidak perlu belajar bahasa Indonesia, seperti orang Arab merasa tidak perlu belajar bahasa Arab. Kecuali yang di fakultas sastra. Sekarang ini banyak pesantren yang punya penerbitan, kayak ini (Hayamwuruk), seperti di perguruan tinggi. Di Langitan punya penerbitan, tebuireng, Lirboyo, Sidogiri, Al Amin, banyak yang mempunyai penerbitan. Sekarang di Horison ada rubrik Kakilangit, dan ternyata memang banyak yang diterbitkan dari pesantren. Tulisannya juga bagus-bagus.
Caption foto:
Gus Mus, mengenakan pakian putih-putih, tengah berbincang dengan para tamu di kediamannya, di Jalan Mulyo No. 4 Rembang, Jawa Tengah.
————————-
Tulisan ini diterbitkan di Majalah Hayamwuruk edisi No.1/Th. XVIII/2008, Fenomena Sastra Islami: Antara Pro dan Kontra.








0 komentar:
Poskan Komentar
Hai Sahabat, telanjangilah Postinganku dengan kata-kata kalian di sini